Kamis, 01 Desember 2011

SYIAH

I. Asal Usul Syi’ah
Syi’ah berarti “Kelompok yang mempunyai ikatan kebersamaan mendukung ide, prinsip atau tokoh”.[1]
Ada beberapa pendapat mengenai munculnya istilah Syi’ah :
1)     Sebagian orang menganggap bahwa sejak Rasulullah saw. wafat, Ali bin Abi Thalib memang mempunyai pendukung yang memperjuangkan kursi kekhalifahan buat Ali yang disebut dengan Syi’ah Ali.[2]
2)     Sebagian yang yang lain menganggap bahwa pada peristiwa terbunuhnya Usman bin Affan, kaum muslimin terbagi menjadi dua golongan, sebagian besar menjadi Syi’ah Ali dan sebagian kecil menjadi Syi’ah Mu’awiyah.[3]
3)     Sebagian lain mengatakan bahwa munculnya Syi’ah akibat gagalnya perundingan antara pihak Khalifah Ali dengan Pemberontak Mu’awiyah yang disebut dengan peristiwa tahkim. Akibat kegagalan itu, maka sejumlah pasukan Ali berontak terhadap pimpinannya atau keluar dari barisan Ali yang disebut Khawarij. Dan sebagian besar tetap setia kepada Khalifah Ali, mereka inilah yang disebut Syi’ah Ali.[4]
Sedangkan seiring dengan perkembangan zaman, istilah Syi’ah lebih dinisbatkan kepada kelompok pengikut Ali dan pemihakan kepada Ali berubah menjadi mengutamakan Ali dan anak cucunya, sehingga lambat laun tumbuh keyakinan bahwa khalifah dan kepemimpinan umat adalah hak mutlak bagi keturunan Ali.
Secara historis, awal mula lahirnya Syi’ah adalah pada peristiwa Saqifah, segera setelah terbetik berita kematian Rasulullah sekelompok sekelompok Muhajirin memaksakan kehendak mereka kepada kaum Anshar untuk menerima Abu Bakar sebagai pemimpin tunggal umat. Pada saat itu ada sebagian suara diajukan dalam menuntut kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, sebab bagi mereka Ali lebih berhak menjadi Khalifah dengan berbagai pertimbangan; Ali masuk Islam dalam keadaan bersih karena tidak pernah menyembah berhala, dan Ali diangkat Nabi SAW sebagai saudaranya bahkan punya hubungan nasab yang kuat dengan Rasulullah SAW.[5] Tapi kenyataannya dalam peristiwa Saqifah tersebut, Abu Bakarlah yang dipilih sebagai Khalifah.
Sehabis penguburan jenazah Rasulullah SAW. Ali dan para sahabat seperti, Abbas, Salman, Abu Dzar, Mihdad, dan Ammar mengetahui tentang pelaksanaan pemilihan Khalifah sehingga muncullah protes dari mereka. Protes ini merupakan manifestasi dari kenyataan yang mereka tidak terima terhadap cara musyawarah pengangkatan Khalifah tanpa melibatkan Ali bin Abi Thalib.
Peristiwa ini merupakan awal perpecahan kelompok minoritas pendukung Ali bin Abi Thalib dari kelompok mayoritas pendukung Khalifah yang terpilih. Dari peristiwa ini, pendukung Ali dikenal sebagai kaum partisan, atau Syi’ah Ali.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pada masa Abu Bakar, istilah Syi’ah telah ada, tetapi belum menampakkan diri sebagai suatu kekuatan politik yang dapat diperhitungkan sebab baru sebagai satu tahapan perasaan simpatik kelompok kecil para sahabat. Demikian pula pada masa Umar. Akan tetapi keadaan ini berubah setelah pemerintahan Usman bin Affan, lebih- lebih pada enam tahun terakhir masa pemerintahannya, ia membuat tindakan-tindakan keliru yang tidak pernah diperbuat oleh Khalifah-khalifah sebelumnya. Tindakan ini telah menyulut rasa ketidakpuasan dan kekecewaan di kalangan rakyat.
Dalam situasi seperti ini, dimanfaatkan oleh Abdullah bin Saba’, seorang pendeta Yahudi yang masuk Islam dengan mempropogandakan gagasannya yang terkenal dalam sejarah dengan sebutan “Mazhab Wishaya” teori ini menyatakan bahwa ada wasiat dari Nabi SAW. Untuk menjadikan Ali sebagai Khalifah sesudah beliau wafat. Sebab sudah menjadi kelaziman bagi setiap Nabi mengadakan wasiat serupa itu. Ali adalah penerima wasiat terakhir. Di samping “Wishaya”, Abdullah bin Saba’ juga melontarkan paham “Hak Ilahi” menurut teori ini, bahwa Ali lah yang berhak menjadi Khalifah, karena hal itu sudah menjadi ketentuan dari Allah SWT. Selanjutnya Ibnu Saba’ mengatakan bahwa Usman telah merampas hak Khalifah dari Ali. Dari gagasan- gagasan Ibnu Saba’ tersebut, akhinya ia mendapat banyak pengikut, terutama di kalangan pecinta Ali bin Abi Thalib.[6]
Kebencian terhadap Usman dan pendukung Ali tumbuh berdampingan, sehingga klimaks ketidakpuasan yng membara itu meledak dalam bentuk pemberontakan dan penyerbuan Madinah yang menewaskan Usman. Kematian Usman memberikan peluang bagi Ali untuk naik di atas kursi kekhalifahan. Ali adalah satu- satunya kandidat yang diterima oleh Anshar, Muhajirin dan para pemberontak.
Akan tetapi, dalam kondisi peralihan kekhalifahan ini, Mu’awiyah-Gubernur Damaskus yang diangkat masa khalifah Usman mempunyai ambisi menjadi khalifah kaum muslimin, maka dengan semboyan ‘menuntut balas atas kematian Usman’ dijadikan alasan untuk menolak kekhalifahan Ali. Mu’awiyah menuntut Ali supaya mengadili dan menghukum para pembunuh Usman bahkan Mu’awiyah menuduh Ali turut campur dalam usaha pembunuhan tersebut.[7]
Dalam kondisi seperti itu tentu sulit bagi Ali untuk menghukum pembunuh Usman yang sekaligus sebagai pendukungnya. Karena itu, terjadilah konflik antara Ali dan Mu’awiyah, dimana Shiffin adalah arena pertempuran kedua golongan ini sampai akhirnya konflik ini menghasilkan abitrase (tahkim), akibatnya terjadi kemelut antara sesama pasukan Ali yaitu antara pasukan yang keluar dari barisan Ali karena tidak setuju adanya arbitrase dan pasukan Ali yang tetap setia pada Ali, karena berpendapat bahwa tak seorangpun yang berhak menjadi khalifah dibanding Ali.
Dari sini nyata bagi kita, bahwa telah terjadi segitiga pertentangan yaitu : antara Golongan Mu’awiyah, Pasukan Ali yang membangkang (keluar dari barisan Ali) yang disebut dengan Khawarij dan yang tetap Setia pada Ali. Golongan yang terakhir inilah yang disebut dengan Syi’ah.
Konflik yang terjadi antara umat Islam ini menewaskan Ali, sehingga terjadi perebutan kekuasaan politik antar pendukung Ali dan Mu’awiyyah. Pendukung Ali (Syi’ah) menuntut agar jabatan kekhalifahan tetap dipegang keluarga ahl al bait, mereka merealisasikan tuntutan ini dengan menobatkan Hasan bin Ali sebagai khalifah.
Dari uraian di atas tampaknya istilah Syi’ah sebagai suatu kekuatan politik tampil pada akhir masa pemerintahan Usman bin Affan kemudian tumbuh dan berkembang pada masa Ali bin Abi Thalib. Sehingga Abu Zahrah mengungkapkan bahwa Syi’ah adalah mazhab politik yang pertama lahir di dalam Islam.
Walaupun pada asalnya Syi’ah lebih di dominasi dengan paham politik, akan tetapi mazhab-mazhab politik itu sendiri pada orientasinya sering melakukan pembahasan terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan pokok-pokok agama dan memasuki bidang furu’.

II. Sekte-sekte Syi’ah
            Dalam perjalanan sejarahnya, Syi’ah tidak hanya satu, mereka pecah menjadi beberapa aliran. Hal ini bukanlah mustahil bagi Syi’ah, sebab mereka merupakan percampuran dari berbagai macam bangsa yang memiliki berbagai macam kecenderungan dan dorongan. Ini disebabkan oleh peristiwa-peristiwa politik dan hubungan mereka dengan pemimpin-pemimpin tertentu yang merupakan sebab mengapa terpecah-terpecah ke dalam firqah-firqah atau sekte-sekte.
            Di antara sekte-sekte Syi’ah ada kelompok ekstrim yang menganggap bahwa pemimpin-pemimpin mereka adalah suci bahkan sampai menganggap bahwa Ali mempunyai sifat kenabian atau Ke-Tuhanan. Seperti yang dilakukan oleh golongan Saba’iyah dan adapula sekte yang bersikap terbatas pada tuntutan kekhalifahan dengan mengatakan Ali lebih berhak daripada yang lain, Sekte-sekte tersebut adalah :



a). Syi’ah Imamiyah (Itsna ‘ Asyariyah)

Syi’ah Imamiyah adalah nama yang dititik beratkan pada pandangannya tentang Imamah. Nama Itsna ‘ Asyariyah di berikan atas dasar bilangan imamnya 12. Kedua belas imam yang dimaksud adalah :
1.      Abu Hasan Ali bin Abi Thalib (Al Murtadha)
2.      Abu Muhammad Hasan bin Ali ( Al Zakiy)
3.      Abu Abdillah Husain bin Ali (Sayyid Syuhada)
4.      Abu Muhammad Ali bin Husain (Zain al Abiddin)
5.      Abu Ja’far bin Ali (Al Baqir)
6.      Abu Abdillah Ja’far bin Muhammad (Al Shadiq)
7.      Abu Ibrahim Musa bin Ja’far ( Al Kazhim)
8.      Abu al Hasan Ali bin Musa (Al Ridha)
9.      Abu Ja’far Muhammad bin Ali (Al Juwwad)
10. Abu Hasan Ali bin Muhammad (Al Hadi)
11. Abu Muhammad Hasan bin Ali (Al Askari)
12. Abu al Qasim Muhammad bin Hasan (Al Mahdi)[8]

Imam terakhir inilah yang terkenal dengan sebutan Imam Mahdi yang diyakini menghilang pada 260 H dan dinanti-nantikan kehadirannya kembali dalam waktu yang tidak diketahui dengan pasti. Meskipun imam terakhir ini dalam keadaan tersembunyi (ghaib/mastur), namun tetap diyakini sebagai imam yang sah sampai sekarang, bahkan sampai akhir zaman.[9]

1. Konsep Imamah
            Menurut keyakinan Syi’ah, Imam yang menggantikan kedudukan nabi itu merupakan kelanjutan dari kenabian. Alasan yang dikemukakan sebagai dasar keharusan adalah adanya rasul-rasul yang diutus oleh Allah guna memberikan petunjuk kepada umat manusia untuk mencapai kebahagian dunia akhirat. Jika para nabi dan rasul yang ditunjuk oleh Allah, bukan dipilih oleh manusia , demikian pula imam-imam itu, dalam menduduki imamah atas pesan nabi dan imam berikutnya pun ditunjuk oleh imam sebelumnya. Dengan demikian, imamah itu merupakan hal yang mutlak ada atas ketentuan Allah juga.[10]
            Kedudukan Imam menurut Syi’ah Imamiyah sama dengan nabi setelah berakhir masa kenabian, karena itu syarat-syarat imam harus ma’shum, terpelihara dari sifat-sifat rendah dan buruk, baik yang tampak dalam perbuatan-perbuatan maupun yang tersembunyi dalam hati, sejak kanak-kanak hingga meninggalnya, baik disengaja ataupun tidak disengaja, sebagaimana juga ma’shum dari kesalahan dan lupa. Syarat-syarat yang demikian ini penting, karena imam-imam adalah penegak-penegak syara’ yang memelihara keselamatannya dari berbagai macam gangguan dan rongrongan.[11]
            Syi’ah Imamiyah berkeyakinan pula bahwa sebagaimana halnya nabi, imam harus mencerminkan tingkat tertinggi dalam sifat-sifat kesempurnaan, kemanusiaannya, seperti memiliki sifat berani, murah hati, jujur, adil, pandai mengatur, dan bijaksana.[12]
            Sebagaimana halnya Nabi memperoleh pengetahuan yang benar dari Allah dengan jalan wahyu, maka imam pun memperoleh pengetahuan yang benar dengan jalan ilham atas kekuasaan Ilahi. Imam memperoleh pengetahuan dengan perantaraan Nabi maupun imam yang mendahuluinya. Jika menghadapi hal-hal yang baru, imam akan memperoleh cara pemecahannya dengan jalan kekuatan Ilahi pula. Dengan demikian, pengetahuan imam tidak diperoleh dengan jalan argumentasi rasional, tetapi pengetahuan itu menampakkan kepada imam, ibarat bayangan yang menampakkan diri dalam cermin yang amat bersih.
            Konsep Imam menurut Syi’ah Imamiyah ini sejalan dengan konsep beberapa filosof Islam dan para sufi yang mengatakan bahwa di balik akal dan argumentasi-argumentasi masih ada lagi jalan memperoleh pengetahuan atas dasar intuisi atau kasyaf, terbukanya tabir rahasia pengetahuan yang hakiki langsung dari Tuhan.[13]
            Sesuai kedudukan imam-imam yang tak ubahnya seperti nabi, maka umat wajib taat mutlak kepada para imam. Perintah para imam adalah perintah Allah dan larangan mereka adalah larangan Allah juga. Taat kepada imam berarti taat kepada Allah dan durhaka kepada imam adalah durhaka kepada Allah, musuh-musuh para imam adalah musuh-musuh Allah. Oleh karena itu, tidak boleh orang menolak imam, sebab menolak imam berarti menolak Allah. Untuk itu orang wajib tunduk kepada imam dan mematuhi perintah-perintahnya, serta jangan mengambil hukum-hukum syara’ kecuali dari imam, karena segala urusan agama ada pada imam.[14]
            Syi’ah Imamiyah berkeyakinan bahwa imam terakhir adalah Muhammad al Mahdi dalam keadaan tidak hadir (gaib/mastur), dan ditunggu kehadirannya kembali pada umat yang hanya diketahui oleh Allah, untuk mengisi kekosongan, maka umat Islam wajib berijtihad bagi yang memenuhi syarat-syarat, karena dialah yang berkedudukan sebagai wakil imam yang gaib. Dialah yang bertindak sebagai penguasa dan kepala negara yang mutlak. Sebagai pengganti imam, mujtahid yang memenuhi syarat berwenang untuk bertindak sebagai hakim dan memegang tampuk pemerintahan. Orang yang menentangnya sama dengan menentang imam. Orang yang menentang imam sama dengan menentang Allah, dan dikatagorikan sebagai musyrik. Jelas sekali di sini bahwa mujtahid mempunyai kewenangan sebagai ‘Wakil Imam’ selama Imam mastur.[15]
            Satu hal lagi yang perlu ditambahkan di sini bahwa Syi’ah Imamiyah memandang para imam secara moderat, tidak seperti pandangannya kaum Syi’ah yang ekstrim yang memandang para imam mempunyai unsur-unsur Ketuhanan. Para imam bagi para Syi’ah Imamiyah adalah manusia biasa yang mempunyai hak seperti manusia lainnya. Hanya saja mereka termasuk hamba Allah yang dimuliakanNya dan amat dekat dengan Allah sebagai kekasihNya. Karena sifat-sifat kesempurnaan yang dimiliki para imam di banding dengan manusia biasa lainnya, maka mereka berhak ditunjuk sebagai imam dan pembawa petunjuk serta menjadi tempat kembali umat Islam setelah nabi, baik menyangkut penjelasan hukum syara’ maupun yang menyangkut penafsiran al Quran.[16]

2. Kitman dan Taqiyyah
            Yang dimaksud dengan Kitman ialah suatu tindakan seorang Syi’ah untuk menyembunyikan hakikat akidah yang ia percayai atau pendapat yang dijadikan pegangan maupun amal perbuatan yang dilakukan. Sehingga dengan demikian ia tidak menampakkan segala apapun kepada orang lain yang berbeda pandangan, sekalipun di dalam hatinya yang dilakukan itu tidak diyakininya, sehingga ia sama dengan orang lain menurut keadaan lahiriah semata. Orang Syi’ah berbuat demikian karena tidak ingin menampakkan diri mereka  dalam bentuk yang berlainan dengan masyarakat yang ada di sekitarnya, yang mungkin memata-matai dan mengintainya. Perilaku seperti itu di sebut dengan Taqiyyah yang boleh dilakukan, bahkan hukumnya wajib dan merupakan salah satu batas mereka.[17]
            Taqiyyah artinya takut.[18] Allah swt. berfirman dalam surah Ali Imran ayat 28

žw ÉÏ­Gtƒ tbqãZÏB÷sßJø9$# tûïÍÏÿ»s3ø9$# uä!$uŠÏ9÷rr& `ÏB Èbrߊ tûüÏZÏB÷sßJø9$# ( `tBur ö@yèøÿtƒ šÏ9ºsŒ }§øŠn=sù šÆÏB «!$# Îû >äóÓx« HwÎ) br& (#qà)­Gs? óOßg÷ZÏB Zp9s)è? 3 ãNà2âÉjyÛãƒur ª!$# ¼çm|¡øÿtR 3 n<Î)ur «!$# çŽÅÁyJø9$#

Artinya :
Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena siasat membela diri dari sesuatu yang ditakuti mereka”.

Menurut riwayat qira’at yang lain di baca “illa an tattaqu minhum taqiyyatan”  tidak tuqatan.[19]

            Menurut Syi’ah, taqiyyah itu merupakan program rahasia, bahkan menjadi strategi yang harus dilaksanakan. Mereka berpura-pura taat, sehingga sampai pada saat yang mungkin nanti untuk melaksanakan rencana-rencananya. Mereka menafsirkan perbuatan imam-imamnya yang dianggap taqiyyah, seperti diamnya Ali atas kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan perjanjian damai antara Hasan dengan Mu’awiyyah.[20]       

3. Al Raj’ah
            Al Raj’ah adalah suatu aqidah Syi’ah: yang dimaksud ialah, bahwa manusia akan dihidupkan kembali setelah mati karena itulah kehendak dan hikmat Allah, setelah itu dimatikan kembali bersama makhluk lain seluruhnya.[21] Syi’ah melihat bahwa kembalinya beberapa orang setelah mati nanti, setelah imam Mahdi turun adalah merupakan salah satu daftar yang esensial. Mereka percaya adanya al Raj’ah berdasarkan al Qur’an  dan al Hadis. Firman Allah swt dalam QS. Ghafir ayat 11. menurut al Thust ayat ini membuktikan kebenaran al raj’ah dan kematian dua kali (At-Tibyan).[22]
            Mereka mengatakan bahwa Imam Mahdi yang hilang nanti akan kembali ke dunia untuk menciptakan keadilan di atas bumi ini dan akan memperhitungkan orang-orang yang tidak memihak dan membela Ali Ra.[23]
           
b). Syi’ah Isma’iliyah

Isma’iliyah merupakan cabang dari Syi’ah yang tergolong banyak menyimpang, terutama setelah berkembang dan menyebar pada sejumlah wilayah, seperti Yaman, Afrika Utara, India, Suriah dan lain-lain.
Kemunculannya berawal dari adanya sekelompok pengikut mazhab Syi’ah memberikan bai’at kepada Isma’il bin Ja’far setelah ayahnya (Ja’far al Shadiq) meninggal dunia pada tahun 148 H/ 765 M.[24]
Kenyataannya setelah melihat beberapa riwayat, peristiwa inilah yang kemudian menjadikannya berbeda dengan golongan Itsna ’Asyariyah dari segi imamahnya.
Menurut salah satu riwayat, bahwa Ja’far al Shadiq mengalihkan imamah dari tangan Isma’il kepada Musa al Kazim karena Isma’il terbukti sebagai pemabuk berat. Oleh karena itu tidak masuk akal kalau Ja’far al Shadiq yang dikenal ketakwaannya dan kewara’annya memberikan wasiat kepada Isma’il sekalipun anaknya sendiri.[25]
Sekalipun ada riwayat yang menjelaskan keadaan pribadi Isma’il, yang bertentangan dengan ajaran agama, bagi pengikut Ismail tetap berkeras menentang peralihan imamah tersebut ke tangan Musa al Kazim, bahkan menurutnya dikatakan bahwa Isma’il adalah orang yang ma’sum kendatipun ia dituduh punya kesenangan meminum minuman keras.[26]
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa jika Isma’il telah meninggal dunia ketika ayahnya masih hidup, dengan demikian maka imamah berpindah kepada puteranya yang bernama Muhammad bin Isma’il, bukan kepada Musa al Kazim, karena menurut mereka imamah tidak bisa berpindah kecuali secara turun temurun. Akan tetapi sebaliknya dalam riwayat yang berbeda diceritakan bahwa kematian Isma’il sesungguhnya terjadi setelah lima tahun ayahnya meninggal dunia. Adapun riwayat yang mengatakan bahwa Isma’il meninggal ketika ayahnya masih hidup, sesungguhnya itu adalah isu kematian sekaligus merupakan sikap taqiyyah yang dilakukan Ja’far, karena pada masa itu para khulafa sering melakukan penindasan terhadap imam-imam ahl bait.
Riwayat lain menguatkan bahwa Isma’il terlihat di kota Basrah menyembuhkan seorang yang lumpuh dengan izin Allah.[27]
Demikian beberapa riwayat yang menceritakan perihal Isma’il, imam ke tujuh menurut pandangan Isma’iliyah, namun menurut riwayat yang lebih dapat dipercaya menyebutkan bahwa Isma’il telah meninggal dunia pada 143 H di Madinah lima tahun sebelum kematian ayahnya.[28]
Berdasarkan riwayat terakhir ini, maka dapat dianalisis bahwa Isma’il memang telah meninggal dunia ketika ayahnya masih hidup. Adapun tidak diterimanya Isma’il wafat oleh pengikutnya adalah karena memang dalam Syi’ah kadangkala enggan menerima kenyataan atas kematian pemimpinnya dan selalu mengatakan bahwa pemimpinnya tidak mati tetapi tinggal di suatu tempat.[29] Kalaupun Isma’il pada waktu itu benar-benar mati maka menurut pengikut Isma’iliyah, ke-Imaman dialihkan kepada puteranya yang bernama Muhammad bin Isma’il karena kepemimpinan baru dinyatakan sah kalau diteruskan oleh keturunan imam sebelumnya.
Dalam sejarah Isma’iliyah, Muhammad bin al Maktum (al Maktum berarti yang menyembunyikan diri). Menurut golongan ini, selama seorang imam belum mempunyai kekuatan yang cukup untuk mendirikan kekuasaan maka imam tersebut perlu menyembunyikan diri, baru setelah merasa cukup kuat, ia akan keluar dari persembunyiannya. Dalam persembunyiannya sang Imam memerintahkan utusan-utusannya untuk menggalang kekuatan. Oleh karena itu, beberapa imam sesudah Muhammad al Maktum selalu menyembunyikan diri sampai pada masa Ubaidillah al Mahdi yang kemudian berhasil mendirikan dan menjadi penguasa pertama Dinasti Fatimiyah di Mesir.[30]
Golongan Isma’iliyah sering juga disebut dengan Sab’iyah atau Sab’iyyun, karena mempercayai tujuh imam. Adapun imam terakhir adalah setelah Isma’il bin Ja’far demikian pendapat yang lebih umum.[31]
Untuk lebih jelasnya, digambarkan ilustrasi semacam silsilah keturunan imam berikut ini.[32]
                                1. Ali bin Abi Thalib

2. Hasan +50 H     3. Husayn +61 H   Muhammad putera Hanafiyya

Muhammad                            Hasan     Abu Hasyim+98 H

                                                Abdullah
 

M. Ibrahim Yahya Idris

                                4. Ali Zayn al Abidin +98 H

                                5. Muhammad al Baqir +113 H            Zayd + 122H

                                6. Ja’far al Shadiq+148 H
 

7. Isma’il                                                 7. Musa al Kazim

    Muhammad                                        8. Ali Ridha + 202 H

                                                                9.Muhammad al Jawad + 220 H

                                                                10. Ali al Hadi + 254 H

                                                                11. Hasan al ‘Askari + 260 H

                                                                12. Muhammad al Muntazhar
                                                                 (yang diharapkan)

Said Ubaydillah                                      lenyap pada tahun 260 H

Al Mahdi + 322 H





Konsep Imamah dan ajarannya

            Imamah atau kepemimpinan adalah suatu tonggak keimanan Syi’ah. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila konsep kepemimpinan Islam memperoleh lebih banyak perhatian pada kelompok Syi’ah dibandingkan dengan kelompok Sunni.
            Imam atau pemimpin adalah gelar yang diberikan seseorang yang memegang pimpinan masyarakat dalam suatu gerakan sosial, atau ideologi politik atau suatu aliran pemikiran keilmuan atau keagamaan.[33]
            Dalam Syi’ah termasuk Isma’iliyah kepemimpinan itu mencakup persoalan-persoalan keagamaan dan kemasyarakatan. Imam bagi mereka adalah pemimpin agama sekaligus pemimpin masyarakat. Bagi Isma’iliyah, penentuan imam bukan berdasarkan kesepakatan atau pilihan umat, tetapi berdasarkan wasiat atau penunjukkan  imam sebelumnya dan turun temurun.[34]
            Menurut mereka, imam itu adalah ma’sum, rakyat wajib mengetahuinya, membai’at dan ta’at kepadanya, taat pada imam itu bukan hanya kepada imam yang tampak saja tetapi juga kepada imam yang gaib yang pada suatu saat nanti akan kembali.[35]           
Sehubungan dengan itu pula, mereka berkeyakinan bahwa imam ketujuh akan diteruskan oleh imam-imam yang terlindungi sepanjang abad (gaib). Dalam perkembangannya pula, mereka dipengaruhi oleh Filsafat Neo Platonisme, oleh karenanya mereka percaya kepada teori emanasi. Menurutnya Nabi saw. menduduki tempat sebagai akal pertama bersama para imam dan jiwa semesta. Dengan demikian, menurutnya pula para imam mampu mena’wilkan al Qur’an meskipun jauh menyimpang dari ajaran yang sebenarnya.[36]
Kembali kepada penentuan imam, seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa imam itu ditentukan dengan cara wasiat dan turun-temurun, ternyata pada perkembangan selanjutnya ketentuan tersebut mulai pudar. Hal ini dapat ditelusuri ketika Isma’iliyah tampil di masa Dinasti Fatimiyah, ini dapat dibuktikan dengan melihat kasus yang di alami Muiz Li Dinillah.
Pada awalnya Muiz Li Dinillah memberikan wasiat kepada puteranya yang berhak meneruskan tampuk kepemimpinan, yaitu Abdullah. Namun karena Abdullah meninggal dunia, wasiat itu akhirnya dialihkan kepada puteranya yang lain, yaitu al Aziz, dengan demikian jelas menyalahi dan menyimpang dari aqidah Isma’iliyah.[37]
Adapun ajaran-ajarannya adalah Isma’iliyah meyakini bahwa setiap yang zahir pasti ada yang batin atau tersembunyi, setiap ayat yang diturunkan pasti dapat dita’wilkan secara lahir dan batin. Karena itu, kelompok ini juga dinamakan Bathiniyyah.[38]
Menurut Isma’iliyah, akal manusia tidak dapat menjangkau sifat-sifat Allah. Tentang hal ini, mereka pernah mengatakan “Kami tidak mengatakan bahwa ia ada, dan tidak pula kami katakan bahwa ia tidak ada, ia tidak alim dan tidak pula jahil, tidak qadir dan tidak pula ajiz atau mampu,” Menurutnya juga, Allah adalah Tuhan yang menciptakan dua hal yang berlawanan dan hakim terhadap yang bermusuhan. Ia tidak qadim dan bukan muhdis. [39]  
Untuk mencapai kebahagiaan, menurut mereka setiap manusia harus mendapatkan ilmu, dan tidak mungkin seseorang akan mencapai ilmu yang hakiki kecuali dengan pemahaman akal secara menyeluruh. Yang dimaksud dengan pemahaman akal hanyalah Nabi dan para imam.[40]
Pada perkembangannya, para ulama Isma’illiyah senantiasa mendakwahkan keyakinan-keyakinan mereka atau ajaran-ajarannya secara sembunyi-sembunyi hingga pada masa Musta’liyah (Musta’liyah adalah sebutan lain dari Isma’illiyah yang berkembang di Mesir).[41]
Dalam menyebarkan dakwahnya, mereka senantiasa menakwilkan al Qur’an, bahkan lebih jauh lagi mereka menakwilkan bahwa al Qur’an itu sendiri yang dimaksud dengan imam. Kata Syamsun juga berarti imam, demikian juga kata Qamarun. Adapun al Thagut, al Ashnam dan al Syayathin, diartikan sebagai musuh-musuh imam.[42]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar